ditulis oleh Kurniawan Hendra

NTUST 2008 Taipei Run Up Team
Finally I wrote down this story, it has been held one week ago. 2008 Taipei 101 Run Up competition, presented by Taipei 101 and organized by CTTRA (Chinese Taipei Road Running Association). This is an annual international run up competition. This year competition every participant should finish run up on 2046 steps, 390 meters high and 91 floors. Competition categories is divided into three criteria; Professional runner, Self challanges/individual and Group runner.
NTUST participate in this event through their international student. Almost all participant is Indonesian student and one Indian student. We depart at 7 from our school to attend medical check up before competition begin. I got queuing number 253 and my shoulder number is 035 among 1500 participants.
Finally the result shown in official website, this year winner was Thomas Dold from Germany in 11 minutes. I got 22 minutes 48 seconds in 274th rank. This is my first experience in run up competition, frankly speaking… i love it. Next year i should participate again in this competition… and become a champion … wkakakaka (dream mode : on) :p
Related Articles :



ditulis oleh Kurniawan Hendra
ditulis oleh Kurniawan Hendra

Graduation Ceremony (Flickr)
Canon KissDigitalX | EF-S 18-55mm
Ikutan Ibu Yuhana, bikin tulisan tentang wisuda… hehehe
. Kemaren pagi adalah pengalaman pertama saya melihat upacara wisuda diluar negeri. Emang bukan kampus saya sih, kampus tetangga
. Kebetulan saya mendapat kehormatan untuk menjadi fotografer Ibu Yuhana dalam acara wisuda Masternya.
Prosesi acara pelepasan mahasiswa alias wisuda mungkin hampir sama dengan proses wisuda di Indonesia. Namun terdapat hal2 mendasar yang menjadi perbedaannya. Kemiripan bisa dilihat, banyak keluarga yang dapat pada saat upacara berlangsung, waktu upacara juga pasti ada sambutan rektor (president, red) , pidato pembukaan dll. Terus dilanjutin dengan pemberian piagam kepada wisudawan dan pengalihan tali ditopi (kanan dipindah kekiri). Terus pakaian wisudanya juga sama
masih warna hitam…hehe. Berikut ini kita lihat beberapa perbedaannya :
- Formalitas : acara wisuda disini tidak terlalu strik, alias tidak terlalu formal. Klo di Indonesia mungkin wisuda menjadi upacara yang sakral, terutama bagi S1. Karena ini berupakan wisuda pertama mereka. Tingkah pola para wisudawan juga unik2
… bahkan ada yang hanya pake celana pendek, kaos oblong terus dilapisi dengan Toga.
- Yang disalamin rektor gak semua mahasiswa, tapi hanya lulusan doktor dan perwakilan dari lulusan Master dan sarjana. Biar hemat waktu dan tenaga sepertinya
- Peserta wisuda ada yang belum mengikuti ujian defense
… inilah hebatnya disini. Belum ujian aja udah boleh ngikutin wisuda…hahaha
- Dan yang saya salut adalah kedisiplinan dan ketepatan waktu yang mereka miliki. Dijadwal acara mereka mencantumkan acara akan dimulai pukul 09.00 dan berakhir pukul 11.10. Tepat seperti yang direncanakan, upacara wisuda berlangsung selama 130 menit. Sewaktu saya akan keluar dari tempat upacara wisuda berlangsung, kebetulan liat jam dinding… 11.10 WIT (Waktu Indonesia bagian Taipei). So, amazing… budaya yang patut ditiru.
Oke, mungkin itu aja kenang2an dari saya selama mengikuti upacara wisuda bu Yuhana. Selamat yah Bu, semoga dapat cepat kembali ketanah air. Sabtu depan giliran mbak Iin dan teman2 NTUST yang diwisuda
, nantikan ulasan berikutnya di Graduation Ceremony of My Campus.

ditulis oleh Kurniawan Hendra
ditulis oleh Nur Aini Rakhmawati
Pagi-pagi tadi sambil packing saya chatting sebentar dengan Bu Nanik yang sedang Konferensi di Polandia. Beliau sempet mengeluh bagaimana bangsa Indonesia dijelek-jelekan oleh bangsa lain di konferensi tersebut. Ada pula peserta yang mabuk dengan mengatakan :
“Malaysia bagus, Indonesia jelek .. Suharto .. bla .. bla “
Duh rasanya gimana gitu. Beliau lebih memilih menghindar berbicara dengan [...]
ditulis oleh Kurniawan Hendra

Taroko National Park - Taiwan (Flickr)
Canon Kiss DitigalX | EF-S 18-55mm
Last Saturday we went to Taroko national park -Taiwan. Departed from NTUST at 5.20 am. Taroko is one of the nine national park In Taiwan and was named as the largest national park. Need 4 hours trip from Taipei to Taroko national park (Hualien) by bus. I call this was an amazing journey since my live in Taiwan. We can get a magnificent view before we arrive at Taroko. Topography of the area are mountain and valley near the sea (east Taiwan). So, we can see the ocean from mountain as long as our journey.
But, unfortunately… the weather is not so, good at Taroko national park. Sunny in the morning and rainy in the afternoon. We only visited some few placed at Taroko, such as : Tunnel of nine turns, Eternal spring shrine, Ksitigarbha (Dizang) statue at the Hsiang-te Temple ect. In the end of journey, we went to Hualien city and visited a beach.

Eternal Spring Shrine (Flickr)
Canon Kiss DitigalX | EF-S 18-55mm

Wooden House (Flickr)
Canon Kiss DigitalX | EF-S 18-55mm

Little Monk Under The Tree (Flickr)
Canon Kiss DigitalX | EF-S 18-55mm
Related Information:
*sorry for the inconvenient for limited bandwith user ^0^

ditulis oleh Rizki Ramadhani
Taipei, 25 Mei 2008
Alhamdulillah bisa jalan-jalan lagi kemarin bersama kawan-kawan (memangnya selama ini kurang jalan-jalan yah aku ???? (T_T) .....). Kita menuju ke salah satu obyek wisata terkenal dan sekaligus salah satu dari 8 flagship Taiwan dan juga obyek wisata impianku. Yup, kami menuju ke Taroko Gorge National Park atau dalam bahasa mandarin disebut 太魯閣國家公園.
Ini untuk ketiga kalinya aku taman nasional di Taiwan setelah sebelumnya menuju Kenting National Park dan Yang Ming Shan National Park. Dan pendapatku ???? Wow luar biasa. Taroko is really magnificent.
Di pintu masuk Taroko
Taroko adalah salah satu dari 7 taman nasional di Taiwan, salah satu dari 8 obyek wisata unggulan Taiwan, dan obyek wisata terbaik yang ada di wilayah timur Taiwan. Taroko sebenarnya adalah jajaran pegunungan marmer yang terletak di wilayah Timur Taiwan, terbentang dari Hualian sampai ke perbatasan Nantou. Gunung-gunungnya cukup indah, dan tempat ini juga merupakan tempat tinggal beberapa suku asli aborigin Taiwan.
Luas Taroko sendiri sekitar 902 km persegi dan secara internasional dikategorikan oleh IUCN (Internasional Union for the Conservation of Nature) sebagai taman nasional. Taroko sebenarnya menantang bagi para pendaki gunung untuk mendaki gunung-gunungnya yang terjal atau arus sungainya yang menantang sehingga bisa digunakan untuk arung jeram. Walaupun demikian tidak hanya itu yang ada di Taroko. Jalur wisata utama Taroko sendiri bisa dilalui oleh kendaraan umum. Kita akan diajak melewati terowongan-terowongan dan juga jalan-jalan tembus di bawah gunung yang cukup luar biasa. Di sepanjang jalur utama itu ada beberapa obyek wisata yang bisa kita lihat. Semisal Eternal Spring Shrine, sebuah kuil Konghucu kecil yang dibangun di pinggir jurang dekat dengan air terjun sehingga membuat kesan seolah-olah kita berada di pegunungan Cina zaman kuno yang begitu alami. Atau kita bisa berkunjung ke desa Buluowan yang merupakan desa aborigin kuno yang masih dihuni oleh orang aborigin asli Taiwan yang memamerkan hasil karya kerajinan tangan mereka.
Di Eternal Spring Shrine
Di Buluowan village
Bersama orang Aborigin asli Taiwan yang sedang menenun
Indahnya Taroko di Buluowan
Kalau kawan-kawan pernah ke danau Maninjau di Sumatera Barat, mungkin tahu dengan jalan 40 kelok yang terkenal menuju ke tepi danau. Di Taroko juga terdapat sesuatu yang mirip. Namanya Tunnel of Nine Turns, terowongan sembilan belokan, yang mengacu kepada jumlah belokan yang ada di terowongan ini. Disinilah kita bisa melihat keindahan jurang dan ngarai yang ada di Taroko. Warna air yang biru dipadu jurang marmer yang putih keabu-abuan menambah indah tempat ini. Bagi saya pribadi, perjalanan ke Taroko adalah perjalanan terindah kedua setelah perjalanan ke Taman Nasional Kenting bulan Februari lalu.
Ada satu yang sebenarnya mengusik pikiran saya waktu memandang keindahan Taroko. Saya kagum tentang cara pemerintah Taiwan mengatur obyek wisatanya. Sebenarnya kalau dipikir-pikir yang kita lihat di Taroko hanyalah jurang dan gunung. Tetapi pemerintah Taiwan sangat bagus mengatur obyek wisata ini. Terowongan dan jalan raya dibangun menembus tepi gunung dan jurang sehingga wisatawan bisa melihat pegunungan ini dari sisi yang berbeda dan merasakan sensasi yang berbeda pula.
Selain itu di sekitar jalur utama ini ditambahkan juga beberapa obyek wisata dan fasilitas lainnya semisal kuil Buddha, hotel, tempat pembelian suvenir, dan juga tempat beristirahat dimana pengunjung bisa beristirahat sambil menikmati keindahan alam sehingga menambah nyaman para pengunjung. Jalur wisata pun sudah dibuat dan diatur dengan baik sehingga mudah bagi para wisatawan.
Beda jika kita bandingkan dengan di Indonesia. Saya mencoba membandingkan Taman Nasional Kenting dan Taman Nasional Taroko dengan Taman Nasional Bukit Barisan dan Taman Nasional Lorentz di Indonesia. Di Taiwan, Kenting pada dasarnya adalah obyek wisata pantai, dan Taroko adalah gunung dan jurang. Tetapi dengan membuat jalur akses yang mudah dan juga menambahkan beberapa fasilitas yang mendukung, Taman Nasional Kenting dan Taroko di Taiwan menjadi cukup menarik dan enak dikunjungi.
Di dekat kuil Hsiang-Te, Taroko
Sungai di Taroko
Tunnel of Nine TurnsBandingkan dengan Bukit Barisan atau Lorentz. Keduanya juga taman nasional bahkan masuk warisan dunia (UNESCO World Heritage). Tapi taman nasional yang ada di Bukit Barisan dan Lorentz sepenuhnya adalah hutan sehingga tidak begitu terkenal dan juga jarang dikunjungi. Perlu ada usaha untuk mengatur taman nasional kita untuk lebih menarik lagi ke depan. Jangan sampai taman nasional yang ada hanya diartikan sebagai hutan yang lebat, liar dan penuh binatang buas sehingga menakutkan dalam benak orang. Karena sedapat mungkin obyek wisata yang ada termasuk taman nasional bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya termasuk untuk menarik wisatawan atau ilmuwan yang ingin meneliti khazanah keilmuan yang dikandung dalam taman nasional tersebut. Taiwan sudah menunjukkannya di Kenting dan Taroko. Semoga kita bisa mencontohnya.
- Rizki -
ditulis oleh Wijayanto Budi Santoso
Selepas salat Jumat, seperti biasa orang-orang berkerumun menyerbu salah satu ruangan di Masjid Grand Taipei yang digunakan sebagai “Pasar Halal”. Ya, saya menyebutnya begitu karena di sana dijual berbagai macam makanan dan juga daging-daging halal. Menunya kurang variatif memang, setiap minggu hanya itu-itu saja. Nasi plus sayur dengan kari, ada ayam, ada juga daging sapi. Menu lain juga ada, seperti nasi goreng, ayam goreng tepung, mie, dll. Jenis dagingnya ada ayam, sapi, hingga kambing.
Siang kemarin sembari menunggu redanya hujan yang mengguyur Taipei siang itu, seperti biasa pula saya menyantap makan siang di sana. Makan nasi dengan daging dan sayur, 70 NT. Selesai bersantap, hujan masih belum reda. Terlibatlah saya beserta 2 orang teman dan seorang temannya teman dalam sebuah diskusi. Bukan diskusi serius, melainkan obrolan santai sambil menunggu hujan reda.
Topik pembicaraan dimulai dari kapan teman saya akan mengakhiri masa tinggalnya di Taiwan hingga kemudian meruntut pada masalah Haji di Taiwan. Temannya teman saya ini merencanakan untuk menunda kepulangannya ke Indonesia karena akan menunaikan rukun Islam kelima itu tahun depan. Banyak keunikan tentang Haji di Taiwan ini menurut informasi darinya. Pertama adalah biaya Haji yang murah. Sekitar 50.000 NT, atau sekitar 15 juta Rupiah (1 NT = Rp 300). Coba bandingkan dengan BPIH (Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji) di Indonesia tahun ini yang nilainya sekitar 3.000-3.500 USD. Itu saja masih yang reguler, bagaimana yang plus? Belum lagi akibat BBM yang naik mulai hari ini, bukan tidak mungkin BPIH tahun depan akan semakin membengkak.
Bukan itu saja keunikannya, selain lebih murah, kalau mau para jamaah juga akan diberikan 100.000 NT secara cuma-cuma oleh pemerintah. Namun tawaran ini banyak yang menolak, karena dengan uang sendiri akan lebih terasa keafdholan dalam beribadah. Dengan jumlah jamaah sekitar 50 orang per tahun, wajar saja jika Taiwan berani membiayai mereka. Dan keunikan yang ketiga adalah, mereka akan diberangkatkan oleh orang nomor satu di negara kecil ini, yaitu Presiden. Mereka akan bersalaman dengan Presiden sebelum berangkat ke tanah suci ibarat duta bangsa yang dikirim untuk menunaikan tugasnya.
Sempat terbersit dalam pikiran saya untuk menunaikan Haji sebelum kembali ke Indonesia. Tapi ternyata tidak semudah itu. Kita harus mendapatkan KTP dan paspor Taiwan dulu untuk bisa mengajukan permintaan Haji. Teman saya mendapatkan KTP tersebut dari hubungan dengan orangtua nya yang adalah keturunan Taiwan. Dan menurutnya sekarang ini untuk mendapatkan KTP Taiwan sudah tidak semudah dulu. Satu-satunya cara adalah menikahi penduduk Taiwan. Pilihan yang sulit memang, meskipun tidak sesulit memilih gadis Taiwan nan menawan.
Yang jelas sudah ada niatan dalam hati untuk menunaikan ibadah ini sebelum BPIH tambah mahal, sebelum anak-anak bertambah banyak, semasih raga sehat dan kuat. Tapi, mengenai bagaimana caranya, biarlah waktu yang menjawab.
ditulis oleh Kurniawan Hendra

Disaat orang-orang sedang tidur pulas, saya masih terjaga malam tadi. Sedang asik-asiknya membaca buku buat ujian hari Rabu besok… tiba-tiba tirai penutup jendela lab bergoyang. Dinding terasa bergetar dan bangku yang saya duduki juga bergetar. Sekitar 30 detik lebih momen itu terjadi, tanpa pikir panjang… saya langsung cabut dari lab.
Setelah sukses menuruni 3 lantai melalui tangga menuju lantai dasar saya langsung bergegas menuju jalan. Lihat kiri-kanan, atas-bawah… ko’ gak ada apa-apa yah, pikir saya dalam hati. Ah… mungkin karena udah kecapean n udah waktunya istirahat. Mendingan saya balik ke dorm aja deh, tidur seperti teman-teman lainnya… klo pun ada gempa, setidaknya alarm di dorm akan berbunyi
.
Setelah sampai didorm… saya melanjutkan baca-baca, karena mata masih belum mau bobo. Akhirnya saya lanjutkan dengan browsing setelah sholat subuh. Pinginnya lihat prakiraan cuaca hari ini, ternyata pada situs prakiraan cuaca Taiwan terdapat peringatan adanya gempa. Benar saja, setelah saya lihat… gempa tersebut terjadi pada pukul 03.52. Dimana pada pukul 03.45 saya lari ngacir dari lab. Gempa tersebut terjadi disebelah timur Hualien county, dan daerah yang merasakan getaran terbesar adalah Yilan County. Walopun cuma gempa kecil… tapi cukup membuat saya kaget
. sampai sekarang saya masih merasakan goncangan… apa kerena laper juga yah
.
*udah ah … mo tidur dulu 

ditulis oleh Wijayanto Budi Santoso
Kemarin setelah membaca berita di detiknews.com tentang permintaan Pak Menteri Pemuda & Olahraga agar para TKI (Tenaga Kuliah Indonesia) mau kembali ke tanah air untuk membangun bangsa, saya melemparkan topik ini ke dalam 2 milis yang saya ikuti. Yang satu adalah milis mahasiswa muslim Indonesia di Taiwan, dan yang lainnya adalah milis angkatan waktu kuliah listrik-listrikan di Bandung. Dan dari beberapa balasan yang diterima, dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu : kembali ke Indonesia, ragu-ragu, dan tidak kembali. Walaupun, yang memilih tidak kembali hanya sebagian kecil.
Ada 2 alasan secara garis besar. Untuk yang condong kembali ke tanah air, alasannya adalah nasionalisme dan atau keluarga. Sedangkan yang tidak, beralasan di tanah air mereka kurang dihargai, baik dari segi finansial maupun dari segi keilmuan. Saya tidak mempertentangkan keduanya, itu hak mereka buat memilih. Toh, nggak kembali bukan berarti nggak nasionalis.
Seorang teman yang lagi berguru di Negeri Ginseng mereply dengan sepotong lirik dari lagunya Sesame Street yang judulnya I Don’t Want to Live on the Moon.
So if I should visit the moon
Well, I’ll dance on a moonbeam and then
I will make a wish on a star
And I’ll wish I was home once again
Though I’d like to look down at the earth from above
I would miss all the places and people I love
So although I may go I’ll be coming home soon
‘Cause I don’t want to live on the moon